26.7 C
Banda Aceh
Monday, September 20, 2021

49 Ekor Gajah Mati di Aceh, Ini Beberapa Penyebabnya

BANDA ACEH l ACEH INFO – Konflik satwa gajah dengan manusia di Sumatera, khususnya di Aceh hingga kini belum berakhir. Gangguan gajah liar kerab mengganggu petani di Provinsi Aceh.

Namun dibalik konflik gajah atau Peomurah, juga telah banyak gajah yang mati di Aceh. Sebagaimana dilansir Merdeka.com, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengungkapkan dalam kurun waktu tujuh tahun, yakni 2015-2021 sebanyak 46 kasus kematian gajah terjadi di Aceh.

Beberapa penyebab gajah mati, dimana perburuan pembohong dan konflik dengan manusia, menjadi pemicu tingginya angka kematian satwa dilindungi di Tanah Rencong.

“Kasus kematian gajah juga cukup tinggi, dalam kurun waktu tujuh tahun itu ada 46 kasus kematian yang kita catat,” kata Kepala Balai Penegakan Hukum (Gakkum) KLHK Wilayah Sumatera, Subhan di Banda Aceh, Kamis (12/8/2021).

Subhan mengatakan, dalam waktu tujuh tahun itu terdapat 528 kasus konflik gajah dengan manusia di Aceh, yakni pada 2015 sebanyak 49 kasus, 44 kasus pada 2016, dan 103 kasus pada 2017.

Kemudian, sebanyak 73 kasus pada 2018, 107 kasus tahun 2019, pada 2020 mencapai 130 kasus dan terakhir hingga Agustus 2021 sebanyak 76 kasus. Namun, dari itu semua hanya 46 kasus dengan kematian gajah.

Dikatakan Subhan, penyebab tingginya angka kematian dan konflik gajah itu, karena maraknya kasus perambahan hutan, alih fungsi hutan dan praktik penebangan pembohong.

“Ini harus menjadi perhatian. Kasus-kasus perburuan pembohong, juga berisiko tinggi akan menyusutnya jumlah satwa kunci di Aceh,” terangnya.

Mengenai kasus pencarian satwa di Aceh sendiri, penyidik ​​Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Aceh, Wahyudi mengatakan, ada beberapa motif maraknya perburuan satwa di Aceh. Misalnya, permintaan pasar dan nilai ekonomis yang tinggi, selain itu ada empat modus yang kerap ditemukan dalam perburuan satwa di Aceh.

“Seperti pemasangan jebakan, jerat, ranjau tombak dan memberi racun pada makanan yang disukai satwa,” katanya. Ia menyebutkan, pada tahun 2019 lalu mempelajari permasalahan sembilan perkara dengan 17 tersangka terkait pencarian kasus satwa lindung di Aceh. Sementara untuk 2020 tujuh kasus dengan empat tersangka.

“Untuk 2021 itu ada dua perkara dengan dua tersangka. Ini kasusnya perburuan orang hutan dan kasus gajah mati tanpa kepala di Aceh Timur,” demikian Wahyudi.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Aceh, A Hanan menyebutkan, 57 persen penyebab kematian gajah di Aceh akibat adanya konflik dengan masyarakat. “Sementara 10 persen itu akibat perburuan dan 33 persen mati secara alami,” terangnya seperti dilansir dari Antara.

Menurutnya, untuk mencegah konflik satwa ini tidak berkelanjutan, penting untuk menciptakan ruang dengan mempertimbangkan habitat satwa di Aceh. “Pembinaan padang rumput, penanaman dan pemeliharaan pohon pelindung, pembuatan fasilitas air minum, tempat berkubang dan mandi satwa, penjarangan jenis,” sebut A Hanan.

PENULIS : FERIZAL HASAN (BANDA ACEH)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

spot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
info terkait

HRD Dukung Penuh Lahirnya BSG di Desa

ACEH UTARA I ACEH INFO – Anggota DPR RI asal Bireuen, Aceh, H Ruslan M Daud (HRD), mendukung penuh atas lahirnya Bank Syariah Gampong...
info terkini
info populer